Umi Kulsum, Hidup untuk Berjuang
.
“Teman-teman datang kepada saya. Mereka mengajak saya berjuang. Masa’ saya menolak, jika diajak berjuang?”
.
“Saya tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya seorang ibu rumah tangga dengan sedikit bisnis yang seya kelola. Tapi saya ingin selalu berjuang”.
“Bisnis saya, bukan untuk mencari uang. Saya bisnis untuk menjadi sarana perjuangan. Kalau cuma mencari uang, itu sederhana, dan saya sudah cukup semuanya”.
.
“Termasuk keluarga. Saya membangun rumah tangga untuk menjaga perjuangan yang saya lakukan. Saya ingin membuat keluarga sebagai basis perjuangan”.
.
“Saya tidak bisa diam. Saya melihat saudara-saudara saya yang sedang berjuang, dan mereka kesulitan sarana. Saya harus bisa membantu mereka”.
.
“Saya tidak bisa membiarkan mereka berjuang sendiri. Saya harus membantu mereka dengan apa yang saya punya”.
.
“Saya tidak berpikir tentang hasil perjuangan. Ini bukan untuk diri pribadi saya. Ini untuk umat yang saya bela. Saya tidak ingin jabatan apa-apa. Saya hanya ingin membantu perjuangan yang sudah dirintis oleh para pendahulu”.
.
Begitu, Umi Kulsum. Hidupnya untuk berjuang. Hidupnya dihabiskan di jalan perjuangan. Semua waktunya, untuk berjuang.
Pikirannya, perasaannya, kekayaannya, bisnisnya, dan semua potensi dirinya, adalah untuk perjuangan.
Sabtu malam, 29 Agustus 2020, tibalah ia pada perjuangan puncaknya. Ia sudah membuktikan kata-kata dan janjinya. Ia telah berjuang dengan segala daya dan upaya.
Allah yang mengistirahatkannya. Allah kini yang menjaganya.
Tangis kami pecah lagi. Sahabat terbaik telah pergi.
