Tarbiyah Itu Mudah : Mengapa Tema “Arabika”?
“Arabika” – Ajak, Rangkul, Bina, Kawal
@ Cahyadi Takariawan
.
Tema “Arabika” hanyalah cara sederhana untuk menjelaskan bahwa tarbiyah itu mudah. Sebuah akronim yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Mudah diucapkan.
Masyarakat Indonesia mengenal dengan baik biji kopi Arabika. Karena Indonesia dikaruniai lahan yang sangat cocok untuk menanam kopi, baik Robusta, Arabika maupun Liberika. Maka begitu mendengar kata Arabika, ini bukan kata asing. Langsung mudah diingat dan dimengerti.
Akronim Arabika dalam tarbiyah, mengajak kita semua mengingat empat kegiatan utama dalam proses pembinaan sumber daya manusia.

Pertama, Ajak
Fokus : ajak orang-orang yang ada di dekatmu, orang-orang yang ada dalam pengaruhmu, atau orang-orang terpilih yang engkau yakini bisa diajak mengikuti pembinaan.
Aktivitas pertama dalam tarbiyah adalah mengajak orang-orang terdekat, orang-orang di sekitar kita, untuk mengikuti kegiatan pembinaan rutin. Dulu Nabi saw ketika pertama kali mendapatkan wahyu, yang beliau lakukan adalah mengajak orang-orang terdekat. Setelah itu baru mengajak manusia secara umum.
Kalau ditanya, diajak ke mana? Jawabannya sangat jelas, diajak ke jalan Allah. Mengajak manusia kepada kebenaran dan kebaikan. Mengajak manusia menuju kepada keselamatan dan kemuliaan dunia akhirat.
Mengajak manusia ke jalan Allah adalah perintah Al-Qur’an. Sangat banyak perintah Allah agar kita mengajak orang lain ke jalan Allah. Di antaranya Allah memerintahkan kita agar mengajak manusia ke jalan Allah (ila sabili Rabbika) sebagaimana firman,
ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَٰدِلۡهُم بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُۚ
“Ajaklah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl: 125).
Allah juga memerintahkan kita agar mengajak manusia kepada Allah (ila Rabbika), sebagaimana firmanNya,
وَادْعُ اِلٰى رَبِّكَ وَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ ٨٧
“Ajaklah (manusia) agar (beriman) kepada Tuhanmu dan janganlah engkau sekali-kali termasuk (golongan) orang-orang musyrik” (QS. Al-Qashas: 87).
Inilah arah tarbiyah, yaitu mengajak manusia kepada jalan Allah, jalan yang lurus, jalan hidayah, jalan kenabian.

Kedua, Rangkul
Fokus : rangkullah orang-orang yang sudah engkau ajak dengan cara dan pendekatan yang tepat, sesuai umur, kondisi dan situasi masing-masing.
Pada dasarnya, semua manusia senang mendapatkan perlakuan yang baik. Maka merangkul orang-orang di sekitar kita sesuai dengan situasi dan kondisinya, menjadi sarana yang mendekatkan mereka kepada kebaikan.
Kalau hanya mengajak saja tanpa merangkul, banyak orang merasa tidak nyaman. Namun jika bisa merangkul dengan cara yang tepat, akan lebih mudah bagi siapapun untuk menerima dakwah.
Nabi saw mendapat perintah dari Allah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan sebagai cahaya yang menerangi. Ini adalah cara merangkul manusia, dengan penuh kebijaksanaan.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا * وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا
“Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada (agama) Allah atas izin-Nya dan sebagai cahaya yang menerangi” (QS. Al-Ahzab : 45-46).
Demikian pula perintah bil hikmah dalam QS. An-Nahl: 125, mengajak manusia ke jalan Allah dengan cara hikmah. Yaitu dengan cara yang sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing objek dakwah.
Allah mengingatkan, sikap keras dan kasar akan menjauhkan manusia dari kebenaran. Ini adalah sikap yang tidak merangkul, namun memukul. Yang harus dilakukan adalah merangkul dengan kelembutan.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu” (QS. Ali Imran : 159).
Tanpa kelembutan, orang-orang yang kita ajak akan mundur teratur. Maka tak boleh ada kekerasan dan paksaan dalam proses pembinaan. Bahkan ketika membina anak-anak sendiri, tidak dengan paksaan dan kekeraasan. Harus dengan kelembutan dan kasih sayang. Semua sudah dicontohkan oleh manusia terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad saw.

Ketiga, Bina
Fokus : membina sumber daya manusia untuk mencapai tujuan dan indikator capaian yang ditentukan, sesuai kurikulum di setiap tingkatan.
Setelah mereka merasa nyaman karena rangkulan yang tepat, mulai aktivitas membina dengan tertib. Lakukan pertemuan pekanan dalam majelis pembinaan yang penuh keberkahan. Sebuah majelis yang bukan saja menyampaikan pengetahuan, namun menyadarkan akan eksistensi kehadiran manusia di muka bumi.
Allah memerintahkan kita agar melakukan proses takwin atau pembentukan karakter. Ayat waltakun minkum, artinya adalah perintah untuk “membentuk” atau “membangun”, yaitu takwin. Bukan sekadar ta’lim atau tatsqif yang berorientasi penyampaian ilmu serta pengetahuan.
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ [ال عمران: ١٠٤]
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104).
Membina tidak sama dengan transfer ilmu pengetahuan. Membina adalah aktivitas yang utuh menyeluruh, menyentuh semua sisi jiwa manusia. Bukan hanya akal dan pikiran, namun juga menyentuh hati, perasaan, selera; dan sisi jasad atau fisik. Ini yang membedakan forum pembinaan dengan forum majelis taklim.
Dalam forum tarbiyah, terdapat aktivitas tilawah (membaca dan memahami) Al-Qur’an, tazkiyah atau pembersihan jiwa, dan ta’lim atau pengajaran ilmu. Allah menyatakan,
لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah (QS. Ali Imran : 164).

Keterangan : foto pengawal kerajaan, dari FB www.facebook.com/khatonnugroho
.
Keempat, Kawal
Fokus : mengawal proses pembinaan agar selalu on the track, dan bisa istiqamah hingga mencapai tujuan yang diharapkan.
Proses pembinaan bukan “semula jadi” atau “sehari jadi”. Bukan instan, namun memerlukan waktu yang panjang. Bahkan seumur hidup. Karena pada dasarnya manusia mudah untuk berubah, dalam konteks menjadi baik atau dalam konteks menjadi buruk.
Di Indonesia, pihak Kepolisian berhak mengeluarkan SKCK atau Surat Keterangan Catatan Kepolisian, yang berfungsi untuk menyatakan adanya suatu catatan kejahatan atau kriminal pada diri seseorang. SKCK hanya bisa berlaku 6 bulan, tidak bisa berlaku seumur hidup.
Dulu surat ini disebut dengan SKKB atau Surat Keterangan Berkelakuan Baik. Kepolisian tidak bisa memberi pernyataan bahwa seseorang berkelakuan baik seumur hidup. Ini menandakan manusia bisa berubah dengan cepat.
Maka membina sumber daya manusia harus dilakukan dengan tekun, telaten, rutin dan sistematis. Tidak bisa hanya dengan sekali dua kali pertemuan, tidak bisa hanya dengan forum yang berjalan sebulan dua bulan. Mengawal proses agar istiqamah, ini adalah bagian penting dari tarbiyah.
Allah memerintahkan Nabi saw agar tetap istiqamah dalam kebenaran, dan mengajak orang lain untuk selalu istiqamah. Ini adalah perintah untuk mengawal proses kebaikan, yaitu dengan istiqamah.
فَٱسْتَقِمْ كَمَآ أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا۟ ۚ إِنَّهُۥ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas” (QS. Hud : 112).
Proses pembinaan memerlukan sistem, kurikulum, lingkungan dan sarana. Itu semua harus dikawal, agar proses tarbiyah tidak menyimpang dari arah yang dikehendaki. Membina bukan sekedar aktivitas rutin pekanan, namun ada tujuan dan sasaran, ada indikator capaian yang menjadi titik untuk perubahan.
Pembinaan dilakukan dalam beberapa tingkatan atau level. Seperti ketika mengajari anak-anak mengenal Al-Qur’an, mereka berada dalam tingkatan yang berbeda-beda. Ada yang belum bisa membaca sama sekali, sehingga harus diajari cara membaca.
Ada di antara mereka yang sudah bisa membaca namun masih terbata-bata, ini perlu diajari membaca dengan lancar. Ada yang sudah lancar namun belum benar, ini yang harus diajari cara membaca sesuai kaidah. Ada yang sudah lancar dan benar namun belum hafal, ini diajak untuk menghafal. Sampai akhirnya diajak untuk mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an.
Ini adalah contoh tingkatan dalam mengajari anak berinteraksi dengan Al-Qur’an. Ada tingkatannya, ada level sesuai dengan situasi dan kondisi setiap anak yang berbeda. Maka belajar Al-Qur’an ada level sejak dasar atau pemula sampai level-level yang paling utama. Sama juga dengan belajar bahasa, ada levelnya.
Demikian pula dalam proses pembinaan, ada tingkatan dan level yang berkelanjutan. Inilah sisi yang harus dikawal. Jangan dibiarkan terputus atau berhenti di tengah jalan. Apalagi sampai berbalik ke belakang. Kawal agar bisa bersama-sama mencapai tujuan yang diharapkan.
Penutup
Inilah empat aktivitas penting dalam tarbiyah. Yaitu, Ajak (mengajak manusia ke jalan Allah), RAngkul (merangkul dengan cara dan pendekatan yang tepat), BIna (mentarbiyah sesuai kurikulum yang ditentukan), KAwal (mengawal proses agar pembinaan berlangsung dengan tuntas).
Semoga semangat Arabika mengingatkan kita semua untuk memahami bahwa membina itu mudah, mentarbiyah itu indah, menjadi murabbi itu gagah dan penuh berkah.
