Takariawan, Nama yang Diambil Dari Pidato Bung Karno
Oleh: Cahyadi Takariawan
Cahyadi Takariawan, adalah nama yang diberikan oleh kedua orangtua saya, semenjak saya lahir. Banyak orang bertanya, apa arti nama tersebut? Terutama penggal kedua nama saya. Ada yang mengira diambil dari bahasa Jepang. Padahal itu Indonesia tulen.
Cahyadi, dalam bahasa Jawa, dari kata cahyo dan adi. Cahyo adalah cahaya, adi artinya bagus. Jadi, Cahyadi maksudnya adalah cahaya yang bagus. Cahaya dikatakan bagus apabila mampu menerangi, namun tidak menyilaukan. Harapan orangtua saya, agar suatu ketika nanti saya bisa menjadi cahaya yang ‘menerangi’ sekitar, tanpa menyilaukan.
Adapun Takariawan, apa arti kata ini? Memahami makna Takariawan, adalah memahami sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia dalam mengisi kemerdekaannya. Jadi, kalau ingin tahun arti nama ini, harus belajar sejarah dulu, biar komplit pemahamannya.
Bung Karno dan Perjuangan Mengisi Kemerdekaan
Di antara yang sangat monumental dari Presiden pertama Republik ini, adalah pidato yang penuh berisi dan menggerakkan jiwa revolusi. Setiap pidato didengarkan dan diresapi oleh rakyat Indonesia.
Pidato Bung Karno bahkan ditunggu-tunggu, dan menjadi penyemangat perjuangan dari tahun ke tahun yang sangat berat pada waktu itu. Bung Karno telah berhasil menjawab berbagai dinamika dan dialektika perjuangan mengisi kemerdekaan, melalui pidato yang menggelora.
Berikut saya cuplikkan beberapa poin pidato Bung Karno dari tahun ke tahun, untuk menjelaskan apa arti nama saya. Huwehehehe…. sekedar menjelaskan arti nama, harus mengurutkan pidato Bung Karno?
Soalnya saya capek kalau harus menjawab terus pertanyaan orang, “Apa arti nama saya”. Nah, biar utuh dalam memahami, tidak sekedar mengetahui singkatannya, maka kisahnya harus diurutkan. Mari kita simak poin penting pidato Bung Karno dari tahun ke tahun.
Pada tahun 1945, Bung Karno menyatakan, “Sekarang tibalah saatnya kita mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri. Hanya Bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya.” Tahun 1946, Bung Karno menyampaikan, “Sekali merdeka, tetap merdeka. Kita cinta damai, tetapi kita lebih lagi cinta kemerdekaan”.
Tahun 1947, “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Kita tidak mau dimakan, dus kita melawan!” Tahun 1948, “Seluruh Nusantara berjiwa Republik”. Tahun 1949, “Tetaplah bersemangat Elang Rajawali. Kita belum hidup dalam sinar bulan juga purnama, kita masih hidup di masa pancaroba, tetaplah bersemangat, Elang – Rajawali”.
Tahun 1950, “Dari Sabang Sampai Merauke”. Tahun 1951, “Capailah tata-tentrem kerta-raharja”. Tahun 1952, “Harapan dan Kenyataan. Kembali kepada jiwa Proklamasi, kembali kepada sari-intinya yang sejati yaitu : jiwa merdeka Nasional, jiwa ikhlas, jiwa persatuan, jiwa pembangunan”. Tahun 1953, “Jadilah alat sejarah”. Tahun 1954, “Berirama dengan Kodrat”. Tahun 1955, “Tetap terbanglah Rajawali”.
Tahun 1956, “Berilah isi kepada hidupmu”. Tahun 1957, “Tahun-tahun Ketentuan”. Tahun 1958, “Tahun Tantangan”. Tahun 1959, “Penemuan Kembali Revolusi Kita”. Tahun 1960, “Laksana Malaikat Menyerbu dari Langit, Jalannya Revolusi Kita (Jarek)”. Tahun 1961, “Revolusi – Sosialisme Indonesia – Pimpinan Nasional (Resopim)”. Tahun 1962, “Tahun Kemenangan (Takem)”.
Tahun 1963, “Genta Suara Revolusi Indonesia (Gesuri). Tiada revolusi kalau ia tidak menjalankan konfrontasi terus-menerus dan kalau ia tidak merupakan satu disiplin yang hidup, bahwa diperlukan puluhan ribu kader di segala lapangan. Tahun 1964, “Tahun Vivere Pericoloco (Tavip)”. Vivere pericoloso, adalah sebuah frasa bahasa Italia (dari kata vivere, “hidup”, dan pericoloso, “berbahaya”) yang berarti hidup penuh bahaya.
Tahun 1965, “Capailah bintang-bintang di langit. Tahun Berdikari (Takari)”. Nah, ini sudah sampai nama saya. Takari adalah nama tahun yang dicanangkan oleh Bung Karno di tahun 1965, yaitu Tahun Berdikari.
Yang dimaksud dengan berdikari adalah “berdiri di atas kaki sendiri”, alias merdeka, berdaulat dan mandiri. Soekarno menjelaskan tiga prinsip berdikari, yakni, berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Ketiga prinsip berdikari ini, kata Bung Karno, tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Tahun 1966, “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah (Jasmerah). Abraham Lincoln, berkata: “one cannot escape history, orang tak dapat meninggalkan sejarah”, tetapi saya tambah : “Never leave history”.
“Peganglah teguh sejarahmu, never leave your own history! Peganglah yang telah kita miliki sekarang, yang adalah akumulasi dari pada hasil semua perjuangan kita di masa lampau. Jikalau engkau meninggalkan sejarah, engkau akan berdiri diatas vacuum, engkau akan berdiri diatas kekosongan dan lantas engkau menjadi bingung, dan akan berupa amuk, amuk belaka. Amuk, seperti kera kejepit di dalam gelap”.
Tahun 1966, Bung Karno juga menyampaikan pidato Nawaksara. Ini merupakan tahun terakhir kekuasaannya, sebelum akhirnya ia dilengserkan pada 1967 dan digantikan oleh Presiden Soeharto.
PD Saja dengan Nama Dirimu
Demikian bersejarah dan melegenda pidato Bung Karno, sampai diingat dan menjadi nama maupun istilah yang tetap digunakan sampai sekarang. Istilah “dari Sabang sampai Merauke”, itulah “jasmerah” sangat dikenal dan tetap digunakan sampai sekarang. Demikian pula beberapa istilah yang dijadikan sebagai nama orang.
Setelah mengetahui rangkaian pidato Bung Karno tersebut, maka anda akan bisa menyimpulkan nama-nama orang (generasi jadul) berdasarkan tahun kelahirannya. Jika ada perempuan bernama Gesuri, maka ia lahir di tahun 1963, dari orangtua yang mengagumi Bung Karno.
Jika ada orang bernama Tavip, berarti ia lahir tahun 1964, dari orangtua yang mengagumi Bung Karno. Jika ada orang bernama Takari, berarti ia lahir tahun 1965, dari orangtua yang mengagumi Bung Karno. Jika ada orang bernama Nawaksara, berarti ia lahir tahun 1966, dari orangtua yang mengagumi Bung Karno.
Saya lahir bulan Desember tahun 1965. Ayah saya pengagum Bung Karno. Ayah memasang gambar Bung Karno dalam ukuran sangat besar di rumahnya. Ayah menyimpan dua jilid buku Di Bawah Bendera Revolusi, berisi pidato Bung Karno. Ayah menyimpan beberapa kaset berisi rekaman pidato Bung Karno. Saya ikut menyimak dan mendengarkan saat masih kecil.
Demikianlah kisah di balik nama Takariawan yang sering ditanyakan –bahkan dibully– orang. Saya tidak mengubah nama pemberian orangtua, saya terima dan saya gunakan apa adanya.
Saya tahu sebagian orang malu dan tidak nyaman dengan nama pemberian orangtua yang tidak marketable, lalu diganti dengan nama-nama panggung. Saya PD saja dengan nama ini, Cahyadi Takariawan. Itulah nama diri saya, sejak lahir sampai mati nanti.
Bahan Bacaan
- Bung Karno : Dari Proklamasi Sampai Gesuri
- Bung Karno : Di Bawah Bendera Revolusi
