Selembar Daun Terakhir
Satu per satu sahabat pergi, dengan berbagai jenis kepergian. Tidak sepakat hasil syura, pergi. Tidak suka gaya kepemimpinan, pergi. Tidak setuju keputusan, pergi. Tidak percaya dengan kapasitas pemimpin, pergi. Tidak diterima usulannya, pergi. Tidak dijadikan pengurus lagi, pergi. Tidak menjadi caleg, pergi. Tidak didukung menjadi calon kepala daerah, pergi. Lihat temannya pergi, pergi.
Mengapa aku tidak ikut pergi? Karena bagiku, dakwah ini begitu berarti. Jika semua akan pergi, biarlah aku menjadi selembar daun terakhir.
Tolong tafsirkan aku sebagai hasrat untuk bisa lebih lama bersamamu.
Tolong ciptakan makna bagiku, apa saja – aku selembar daun terakhir yang ingin
menyaksikanmu bahagia ketika sore tiba.
– Sapardi Djoko Damono
