Ruang Membina

Pelajaran Akhlak dalam Surat Al-Hujurat

Bagikan

Berdasarkan Penjelasan Para Mufassir

@ Cahyadi Takariawan

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan, surat Al-Hujurat diturunkan setelah surat Al-Fath, yang menguraikan tentang sifat-sifat umat yang memegang teguh keyakinan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Mereka bersikap keras terhadap orang-orang yang masih kafir dan tidak mau menerima kebenaran seruan Ilahi, dan bersikap lembut terhadap orang-orang yang seiman.


Dan terkadang, meskipun saudara sekandung, jika keyakinan tentang Tuhan berbeda akan menimbulkan kerenggangan hubungan. Sebaliknya, meskipun seseorang itu berasal dari bangsa yang berbeda, akan tetapi memiliki keyakinan dan keimanan yang sama, akan saling berkasih-kasihan dan sayang-menyayangi.

Tidak heran jika pada zaman Nabi, Bilal yang berkulit hitam, dengan Shuhaib yang berkulit putih dan Salman yang berkulit kuning, masing-masing dari bangsa yang berbeda, mereka tetap hidup bersama bagaikan saudara. Mereka berbaris menjadi satu di medan perang, dan bersaf menjadi satu barisan di belakang Nabi saw.

Setelah ada perpaduan karena persatuan akidah, maka turunlah surat Al-Hujurat yang mengatur adab sopan santun bagi seorang muslim di dalam kehidupannya. Ayat-ayat dalam surat Al-Hujurat, diturunkan untuk menyikapi sikap moral bangsa Arab yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.

Surah Al-Hujurat ini meletakkan dasar-dasar gambaran yang menyeluruh tentang suatu alam yang sangat terhormat, bersih dan sejahtera. Mengandung kaidah dan prinsip-prinsip serta sistem yang hendaknya menjadi landasan bagi tegak dan terpelihara serta merata Keadilan Dunia. Dunia yang memiliki sopan santunnya terhadap Allah, Rasul, diri sendiri dan orang lain. Sopan santun yang berkaitan dengan bisikan hati dan gerak-gerik anggota tubuh, di samping syariat dan ketentuan-ketentuannya.

Yang sangat menonjol pada surah ini adalah upayanya yang demikian besar dan kosisten pada bentuk petunjuk-petunjuknya dalam rangka membentuk dan mendidik komunitas muslim dan yang benar-benar telah pernah terbentuk pada suatu waktu di persada bumi ini. Dengan demikian, petunjuknya bukanlah ide-ide yang tidak dapat diterapkan atau sesuatu yang hanya hidup dalam khayal seseorang.

Secara garis besar, terdapat tiga kandungan akhlak dalam surat Al-Hujurat.


Pertama, Akhlak kepada Allah

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُقَدِّمُوا۟ بَيْنَ يَدَىِ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Hujurat : 1).

Menurut Imam Ibnu Katsir, maksudnya adalah “janganlah kalian tergesa-gesa dalam segala sesuatu di hadapannya, yakni janganlah kamu melakukan sebelum dia, bahkan hendaknyalah kamu mengikuti kepadanya dalam segala urusan”.

Suatu ketika Mu’az r.a. diutus oleh Nabi Saw. ke negeri Yaman.

“بِمَ تَحْكُمُ؟ ” قَالَ: بِكِتَابِ اللَّهِ. قَالَ: “فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ ” قَالَ: بِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ. قَالَ: “فَإِنْ لَمْ تَجِدْ؟ ” قَالَ: أَجْتَهِدُ رَأْيِي، فَضَرَبَ فِي صَدْرِهِ وَقَالَ: “الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رسولَ رسولِ اللَّهِ، لِمَا يَرْضَى رَسُولُ اللَّهِ”.

Nabi Saw. bertanya kepadanya, “Dengan apa engkau putuskan hukum?” Mu’az menjawab, “Dengan Kitabullah” Rasul Saw. bertanya, “Kalau tidak kamu temukan?” Mu’az menjawab, “Dengan sunnah Rasul.” Rasul Saw. bertanya, “Jika tidak kamu temukan.” Mu’az menjawab, “Aku akan berijtihad sendiri.”

Maka Rasul Saw. mengusap dadanya seraya bersabda: Segala puji bagi Allah yang telah membimbing utusan Rasulullah kepada apa yang diridai oleh Rasulullah.

Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah telah meriwayatkan hadits ini pula.

Mu’az menangguhkan pendapat dan ijtihadnya sendiri sesudah Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Sekiranya dia mendahulukan ijtihadnya sebelum mencari sumber dalil dari keduanya, tentulah dia termasuk orang yang mendahului Allah dan Rasul-Nya.

Ali ibnu AbuTalhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (Al-Hujurat: 1) Yakni janganlah kamu katakan hal yang bertentangan dengan Kitabullah dan sunnah.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa mereka (para sahabat) dilarang berbicara di saat Rasulullah Saw. sedang berbicara. Mujahid mengatakan, “Janganlah kamu meminta fatwa kepada Rasulullah Saw. tentang suatu perkara, sebelum Allah Swt. menyelesaikannya melalui lisannya.”

Ad-Dahhak mengatakan, “Janganlah kamu memutuskan suatu urusan yang menyangkut hukum syariat agama kalian sebelum Allah dan Rasul-Nya memutuskannya”. Sufyan Ats-Tsauri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman Allah Swt: Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya (Al-Hujurat: 1) –baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Al-Hasan Al-Basri telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (Al-Hujurat: 1) Yaitu janganlah kamu berdoa sebelum imam berdoa.

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa ada beberapa orang yang mengatakan, “Seandainya saja diturunkan mengenai hal anu dan anu. Seandainya saja hal anu dibenarkan. Maka Allah Swt. tidak menyukai hal tersebut; karena hal tersebut berarti sama dengan mendahului.”

{وَاتَّقُوا اللَّهَ}

dan bertakwalah kepada Allah (Al-Hujurat: 1) –dengan mengerjakan semua apa yang diperintahkan-Nya kepada kalian.

{إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ}

Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Hujurat: 1) — yakni Dia mendengar semua ucapan kalian dan mengetahui semua niat kalian.


Hamba yang beriman tidak boleh mendahului Tuhannya dalam masalah perintah dan larangan. Jangan memberi-Nya saran tentang hukum dan keputusan. Jangan melampaui apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya sebagai wujud ketakwaan dan ketakutan terhadap-Nya; wujud rasa malu dan kesopanan kepada-Nya.

Termasuk dalam masalah penetapan baik dan buruk dalam perbuatan manusia, yang berhak menetapkannya adalah Allah swt.

Dalam tafsir Al Qur’an Kementrian Agama RI dijelaskan, pada permulaan surah al-hujurat ini Allah mengajarkan akhlak kepada kaum muslim ketika berhubungan dengan Allah dan rasul-Nya. “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya”, yakni jangan kamu tergesa-gesa dalam memutuskan suatu perkara sebelum mendapat keputusan Allah dan rasul-Nya, “dan bertakwalah kepada Allah” dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Sungguh, Allah maha mendengar ucapan kamu, maha mengetahui segala gerak-gerik dan perbuatan kamu. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum muslim agar jangan mendahului Allah dan rasul-Nya dalam menetapkan hukum keagamaan atau persoalan duniawi yang menyangkut kehidupan me-reka. Hal ini bertujuan agar keputusan mereka tidak menyalahi syariat islam sehingga menimbulkan kemurkaan Allah.

Kedua, Akhlak kepada Rasulullah

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَرْفَعُوٓا۟ أَصْوَٰتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ ٱلنَّبِىِّ وَلَا تَجْهَرُوا۟ لَهُۥ بِٱلْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَٰلُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari” (QS. Al-Hujurat : 2)

Bersuara keras yang mengandung makna tidak mengagungkan Nabi Muhammad saw dapat mengantar kepada kegersangan hati dan ini sedikit bertambah dan bertambah sehingga dapatmengakibatkan lunturnya akidah yang pada gilirannya menghapuskan amal.

Dengan kata lain, mengabaikan tuntunan ini sedikit demi sedikit mengundang kebiasaan lalu meningkat kepada mempersamakan Nabi Muhammad saw dengan manusia biasa, dan ini meningkat lagi kepada mengkritik pribadi beliau yang akhirnya melecehkannya dengan pelecehan yang mengakibatkan kekufuran dan terhapusnya amal.

Peningkatan itu terjadi sedikit demi sedikit tanpa disadari oleh seseorang, dan karena itu ayat di atas menyatakan supaya tidak hapus amal-amal kamu sedangkan kamu tidak menyadari. Demikianlah, mereka menjadi sopan di dekat Rasulullah karena khawatir amalnya terhapus tanpa mereka sadari. Jika mereka menyadari, niscaya diperbaikilah persoalannya.

Allah mengangkat ketakwaan mereka dan perlahannya suara mereka di dekat Rasulullah melalui ungkapan yang menakjubkan:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَٰتَهُمْ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱمْتَحَنَ ٱللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS. Al-Hujurat : 3)

Kemudian Allah mengisyaratkan peristiwa yang dilakukan utusan bani Tamim tatkala mereka datang untuk menemui Rasulullah pada tahun ke-9 Hijriah yang juga disebut tahun utusan karena banyaknya utusan masyarakat Badui yang datang dari berbagai tempat setelah jatuhnya kota Mekah. Mereka datang untuk masuk Islam.

Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dalam kitab tafsirnya menjelaskan, “Mereka meninggikan suara kepada nabi di kamar-kamar istri-istri nabi. Bahkan mereka meninggikan suara suara mereka dengan berkata: Wahai Muhammad keluarlah kepada kami, hormatilah kami. Datang juga dari mereka seorang khotib dan penyair dan yang menakjubkan, bahwasanya Rasulullah berbicara dengan halus kepada mereka”.

Mereka adalah orang Badui yang bertabiat kasar. Sehingga, mereka memanggil istri-istri Nabi saw dari balik kamar-kamar para istri beliau yang menempel dengan masjid Nabi yang mulia. Mereka berseru,”Hai Muhammad, temuilah kami!”

Nabi saw tidak menyukai kekasaran dan gangguan ini. Maka, diturunkanlah firman Allah:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِن وَرَآءِ ٱلْحُجُرَٰتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS. Al-Hujurat : 4)

Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan, (“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar) yakni dari luar kamar istri-istrinya.

Lafal Hujuraat bentuk jamak dari lafal Hujratun, yang artinya; sepetak tanah yang dikelilingi oleh tembok atau lainnya, yang digunakan sebagai tempat tinggal. Masing-masing di antara mereka memanggil Nabi  dari belakang kamar-kamarnya, karena mereka tidak mengetahui di kamar manakah Nabi  berada.

Mereka memanggilnya dengan suara yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab Badui, yaitu dengan suara yang keras dan kasar (kebanyakan mereka tidak mengerti) tentang apa yang harus mereka kerjakan di dalam menghadapi kedudukanmu yang tinggi, dan sikap penghormatan manakah yang pantas mereka lakukan untukmu.

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا۟ حَتَّىٰ تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan, kalau mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat : 5)

Akhlak kepada Rasulullah dalam ayat ini melahirkan sikap bertutur kata lemah lembut, sopan dan dapat memilih kata-kata yang baik sesuai dengan keadaan yang berlangsung (fi kulli maqâmin maqâlun wa fi kulli maqâlin maqâmun). Karena dengan tutur kata yang baik cerminan dari akhlak yang mulia, sebagaimana yang dicontohkan Rasul.


Ketiga, Akhlak kepada sesama manusia

Selanjutnya, surat Al-Hujurat memberikan rambu-rambu akhlak sosial dalam interaksi dengan sesama manusia.

1. Berbaik sangka (husnuzhan) dalam menyikapi informasi yang belum pasti kebenarannya

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurat : 6)

Pada prinsipnya, hendaklah setiap individu kaum muslimin menjadi sumber berita yang tepercaya dan hendaknya berita itu benar serta dapat dijadikan pegangan. Dengan melakukan tabayyun (memastikan berita) dengan prinsip selektif dan hati-hati terhadap informasi dari orang fasik, urusan umat menjadi tentram.

Kaum muslimin tidak tergesa-gesa bertindak berdasarkan berita dari orang fasik. Karena bisa mengakibatkan tindak kezaliman kepada suatu kaum dan melakukan perbuatan yang dimurkai Allah lantaran tidak mempertahankan kebenaran dan keadilan.

Ayat di atas merupakan salah satu dasar yang ditetapkan agama dalam kehidupan sosial sekaligus ia merupakan tuntunan yang sangat logis bagi penerimaan dan pengamalan suatu berita. Kehidupan manusia dan interaksinya haruslah didasarkan hal-hal yang diketahui dan jelas.

Manusia sendiri tidak dapat menjangkau seluruh informasi, karena itu ia membutuhkan pihak lain. Pihak lain itu ada yang jujur dan memiliki integritas sehingga hanya menyampaikan hal-hal yang benar, dan ada pula sebaliknya. Karena itu pula berita harus disaring, khawatir jangan sampai seseorang melangkah tidak dengan jelas atau dalam bahasa ayat di atas bi jahâlah.

وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ ٱللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِى كَثِيرٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

“Ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau Beliau menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan. Tetapi, Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus” (QS. Al-Hujurat : 7)

فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Hujurat : 8).

Yang dijadikan cinta kepada orang-orang beriman hanya satu yaitu keimanan, sedang yang dijadikan benci kepadanya ada tiga yaitu al-kufr, al-fusuq dan al-‘ishyan. Ini karena iman terdiri dari tiga unsur yang menyatu, yaitu pembenaran dengan hati, ucapan dengan lidah dan pengamalan dengan anggota tubuh. Ini hendaknya menyatu tanpa dipisah-pisah.

Berbeda dengan lawannya. Lawan dari pembenaran hati adalah kekufuran, lawan dari ucapan dengan lidah adalah kefasikan, dan lawan dari pengamalan adalah kedurhakaan. Masing-masing dari ketiga hal tersebut dapat berdiri sendiri, maka karena itu ayat di atas merincinya.

2. Menyelesaikan perselisihan di antara kaum mukminin

وَإِن طَآئِفَتَانِ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱقْتَتَلُوا۟ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنۢ بَغَتْ إِحْدَىٰهُمَا عَلَى ٱلْأُخْرَىٰ فَقَٰتِلُوا۟ ٱلَّتِى تَبْغِى حَتَّىٰ تَفِىٓءَ إِلَىٰٓ أَمْرِ ٱللَّهِ ۚ فَإِن فَآءَتْ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَهُمَا بِٱلْعَدْلِ وَأَقْسِطُوٓا۟ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُقْسِطِينَ

“Jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al-Hujurat : 9)

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujurat : 10).

Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan, “Pertikaian –apalagi peperangan- antara kaum mukminin merupakan bentuk kezaliman (aniaya) dan laksana sakitnya tubuh. Maka Surat Al Hujurat ayat 10 ini memberikan panduan, mukmin lainnya harus berusaha untuk mendamaikan keduanya”.

Ayat diatas mencerminkan kaidah umum yang ditetapkan untuk memelihara kaum muslimin (al-Mujtama’ al-Islam) dari perpecahan dan perceraiberaian. Kaidah itupun bertujuan meneguhkan kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Yang menjadi pilar bagi semua ini ialah ketakwaan kepada Allah dan harapan akan rahmat-Nya dengan menegakkan keadilan dan perdamaian.

Al-Qur’an mengantisipasi kemungkinan terjadinya perselisihan antara dua kelompok mukmin. Mungkin salah satu kelompok itu berlaku zalim atas kelompok lain, bahkan mungkin keduanya berlaku zalim dalam salah satu segi. Namun, Allah mewajibkan kaum mukminin lain – tentu saja bukan dari kalangan yang bertikai – supaya menciptakan perdamaian di antara kedua kelompok yang bertikai.

Jika salah satunya bertindak melampaui batas dan tidak mau kembali kepada kebenaran, misalnya kedua kelompok itu berlaku zalim dengan menolak untuk berdamai atau menolak untuk menerima hukuman Allah dalam menyelesaikan aneka masalah yang diperselisihkan, maka kaum mukminin hendaknya menghukum kelompok yang zalim tersebut hingga mereka kembali kepada ‘perkara Allah’.

Adapun yang dimaksud dengan ‘perkara Allah’ ialah menghentikan permusuhan di antara kaum mukminin dan menerima hukum Allah dalam menyelesaikan apa yang mereka perselisihkan. Jika pihak yang zalim telah menerima hukum Allah secara penuh, kaum mukminin hendaknya menyelenggarakan perdamaian yang berlandaskan keadilan yang cermat sebagai wujud kepatuhan kepada Allah dan pencarian keridhaan-Nya.

Dalam konteks hubungan antar manusia, maka nilai-nilai itu tecermin dalam keharmonisan hubungan.Ini berarti jika hubungan antar dua pihak retak atau terganggu, maka terjadi kerusakan dan hilang atau paling tidak berkurang kemanfaatan yang dapat diperoleh dari mereka. Ini menuntut adanya ishlâh yakni perbaikan agar keharmonisan pulih, dan dengan demikian terpenuhi nilai-nilai bagi hubungan tersebut, dan sebagai dampaknya akan lahir aneka manfaat dan kemaslahatan.

Hendaknya implikasi dari persaudaraan ini ialah rasa cinta, perdamaian, kerja sama, dan persatuan menjadi landasan utama masyarakat muslim. Sebab, tujuan menghukum mereka bukanlah untuk menghancurkannya. Tetapi, untuk mengembalikan mereka kebarisan dan merangkulnya dibawah bendera persaudaraan Islam.

Ayat di atas mengisyaratkan dengan sangat jelas bahwa persatuan dan kesatuan, serta hubungan harmonis antar anggota masyarakat kecil atau besar, akan melahirkan limpahan rahmat bagi mereka semua. Sebaliknya, perpecahan dan keretakan hubungan mengundang lahirnya bencana buat mereka, yang paa puncaknya dapat melahirkan pertumpahan darah dan perang saudara sebagaimana dipahami dari kata qitâl yang puncaknya adalah peperangan.

3. Haram mengolok-olok, mencela, dan memanggil dengan panggilan yang buruk

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolokolokkan). Janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolokolokkan). Dan, janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggilmemanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan, barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Hujurat : 11)

Dalam kitab tafsir Jalalain dijelaskan, “Ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi. As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina (suatu kaum) yakni sebagian di antara kalian (kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan) di sisi Allah, (dan jangan pula wanita-wanita) di antara kalian mengolok-olokkan (wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan)”

“(Dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri) artinya, janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela; makna yang dimaksud ialah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang lain (dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk) yaitu janganlah sebagian di antara kalian memanggil sebagian yang lain dengan nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau hai orang kafir”.

“(Seburuk-buruk nama) panggilan yang telah disebutkan di atas, yaitu memperolok-olokkan orang lain mencela dan memanggil dengan nama julukan yang buruk (ialah nama yang buruk sesudah iman) lafal Al-Fusuq merupakan Badal dari lafal Al-Ismu, karena nama panggilan yang dimaksud memberikan pengertian fasik dan juga karena nama panggilan itu biasanya diulang-ulang (dan barang siapa yang tidak bertobat) dari perbuatan tersebut (maka mereka itulah orang-orang yang lalim)”.

Masyarakat unggul yang hendak ditegakkan Islam dengan petunjuk Al-Qur’an ialah masyarakat yang memiliki etika yang luhur. Pada masyarakat itu setiap individu memiliki kehormatan yang tidak boleh disentuh. Ia merupakan kehormatan kolektif. Mengolok-olok individu manapun berarti mengolok-olok pribadi umat. Sebab, seluruh jamaah itu bagaikan satu kesatuan.

Ungkapan ayat diatas juga mengisyaratkan secara halus bahwa nilai-nilai lahiriah yang dilihat laki-laki dan wanita pada dirinya bukanlah nilai hakiki yang dijadikan pertimbangan oleh manusia. Disana ada sejumlah nilai lain yang tidak mereka ketahui dan hanya diketahui Allah serta dijadikan pertimbangan oleh sebagian hamba.

Termasuk mengolok-olok dan mencela ialah memanggil dengan panggilan yang tidak disukai pemiliknya serta dia merasa terhina dan ternoda dengan panggilan itu. Di antara kesantunan seorang mukmin ialah dia tidak menyakiti saudaranya dengan panggilanpanggilan semacam ini.

4. Haram berburuk sangka, ghibah, dan mencari-cari kesalahan orang lain

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman ! jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian mereka menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat : 12)

Ayat ini menegakkan jalinan lain pada masyarakat yang utama lagi mulia seputar kemulian individu, kehormatannya, dan kebebasannya sambil mendidik manusia dengan ungkapan yang menyentuh dan menakjubkan tentang cara membersihkan perasaan dan kalbunya. Lalu ayat ini menyuruh kaum muslim menjauhi banyak berprasangka. Sehingga mereka tidak membiarkan dirinya dirampas oleh setiap dugaan, kesamaran, dan keraguan yang dibisikkan orang lain di sekitarnya.

Ayat itu memberikan alasan, “Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” Tatkala larangan didasarkan atas banyak berprasangka, sedang aturannya menyebutkan bahwa sebagian prasangka itu merupakan dosa, maka pemberitahuan dengan ungkapan ini intinya agar manusia menjauhi buruk sangka apapun yang menjerumuskannya ke dalam dosa. Sebab, dia tidak tahu sangkaannya yang manakah yang menimbulkan dosa.

Kemudian berkaitan dengan penjaminan terciptanya masyarakat tersebut, disajikanlah prinsip lain yang berkaitan dengan menjauhi prasangka, ”Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” Tajassus kadang-kadang merupakan kegiatan yang mengiringi dugaan dan kadang-kadang sebagai kegiatan awal untuk menyingkap aurat dan mengetahui keburukan.

Al-Qur’an memberantas praktik yang hina ini dari segi akhlak guna membersihkan kalbu dari kecenderungan yang buruk itu, yang hendak mengungkap aib dan keburukan orang lain. Setelah itu, ditampilkan larangan ghibah dalam ungkapan yang menakjubkan yang diciptakan al-Qur’an al-Karim, ”Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”

Disebutkan oleh Abu Dawud bahwa al-Qa’nabi menceritakan dari Abdul Aziz bin Muhammad, dari al-‘Ula’, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ditanya, “Hai Rasulullah, apakah ghibah itu?” Nabi saw menjawab, ”Kamu menceritakan saudaramu mengenai apa yang tidak disukainya,” Beliau ditanya, ”Bagaimana menurut engkau jika yang dikemukakan itu pada dirinya? “ Nabi saw menjawab, “Jika yang kamu katakan itu ada pada dirinya, berarti kamu mengumpatnya. Jika tidak ada pada dirinya, berarti kamu telah berdusta tentang dia.” (HR Timidzi)

5. Saling mengenal antar sesama

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS. Al-Hujurat : 13)

Setelah menyampaikan seruan-seruan yang berulang-ulang kepada orang yang beriman ini; membawa mereka ke cakrawala etika individual serta sosial yang tinggi dan elok; menegakkan tradisi yang kuat seputar jaminan kemuliaan, kebebasan, dan kehormatan; dan menjamin semua ini dengan perasaan yang ditebarkan ke dalam jiwa mereka melalui pengharapan kepada Allah dan ketakwaan kepadaNya, maka diserulah umat manusia dengan segala ras dan warna kulitnya untuk saling kenal mengenal.

Tujuan dari menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, bukan untuk saling menjegal dan bermusuhan, tetapi supaya harmonis dan saling mengenal. Adapun perbedaan bahasa dan warna kulit, perbedaan watak dan akhlak, serta perbedaan bakat dan potensi merupakan keragaman yang tidak perlu menimbulkan pertentangan dan perselisihan. Namun, justru untuk menimbulkan kerja sama.

Lebih lanjut, Islam menyelamatkan umat manusia dari fanatisme ras, fanatisme daerah, fanatisme kabilah, dan fanatisme lainnya.Semua ini merupakan kejahiliahan yang kemudian dikemas dalam berbagai model dan dinamai dengan berbagai istilah. Semuanya merupakan kejahiliahan yang tidak berkaitan dengan Islam. Nabi saw, bersabda ihwal fanatisme jahiliah, “Tinggalkanlah ia karena merupakan bangkai.” (HR Muslim)

Keharmonisan hubungan antara manusia dan alam semesta hasil dari bertemunya perilaku manusia dengan perilaku (tabi’at) alam. Hal tersebut melalui penghormatan manusia atas hukum-hukum yang menjamin kelestarian alam.

Keberadaan alam semesta yang tampak dengan beragam bentuk dan ukurannya berasal dari satu sumber, satu tabi’at, satu kehendak. Dan manusia sebagai makhluk yang paling mulia terbentuk dari unsur alam yaitu tanah, maka sewajarnya bila manusia berakhlak dengan alam semesta.

Referensi
Tafsir Al Azhar, Buya Hamka
Tafsir Ibnu Katsir
Tafsir Jalalain
Tafsir Ringkas Al-Qur’an Kementrian Agama RI
Toto Hariyanto, Internalisasi Nilai-nilai Akhlak dalam Surat Al-Hujurat Menurut Sayyid Quthub, UIN Raden Fatah, Palembang, https://media.neliti.com

Tinggalkan Balasan

Artikel ini telah dilihat : 137 kali.