Mengapa Kami Bisa Berteman?
.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Berbahagia sekali, pagi hingga siang tadi, Kamis 26 Mei 2022, saya bisa memenuhi undangan para ‘keponakan ideologis’ untuk agenda silaturahim Syawal. Mereka meminta saya untuk bercerita tentang satu hal : mengapa ayah dan ibu mereka bisa berteman?
Sudah sejak lama mereka menyaksikan ayah dan ibu mereka berkumpul, mengaji, berkegiatan, berdakwah, dan menjalankan berbagai amanah. Sejak dulu, temannya tetap yang itu. Meski punya banyak teman baru, namun orang-orang lama itu tetap terhubung sebagai teman dengan ayah dan ibu mereka.
Apa ada yang aneh? Tidak ada, itu biasa saja. Cuma mereka pengen tahu alasan, mengapa tak bosan berteman.
Baiklah, saya bercerita. Bagaimana dulu kami bertemu dan berteman? Mengapa hingga sekarang tetap bertemu dan berteman?
Pada masa Orde Baru, pemerintah berlaku sangat represif terhadap rakyat. Tuduhan subversif dan anti-Pancasila disematkan kepada mereka yang berbeda pendapat dengan penguasa. Corak kepemimpinan yang sangat sakral dan tak terbantahkan. Sabdo pandito ratu; itu yang dianut Soeharto.
Gerakan rakyat dibungkam. Suara kebenaran dimatikan. Organisasi mahasiswa dimandulkan. Semua perkumpulan dicurigai. Dakwah diintimidasi. Rakyat serba tidak boleh –hanya boleh mengikuti keinginan penguasa saja.
Saat itu saya aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Semua agenda HMI diintervensi, sampai dibikin perpecahan. Muncullah MPO dan Dipo. Satunya menolak asas tunggal, satunya menerima asas tunggal. Inilah bencana yang dialami organisasi Islam pada umumnya.
HMI MPO terus dikejar-kejar. Kegiatan Batra (Basic Training) yang merupakan jenjang awal pengkaderan, kerap dibubarkan. Kantor HMI MPO di Jl. Dagen Yogyakarta, disegel. Majalah perdana langsung dibredel. Beberapa pengurus inti, langganan ditangkap dan diinterogasi aparat.
Ayah dan ibu kalian, sebagian besarnya, saat itu aktif dalam gerakan mahasiswa di berbagai kampus. Kondisinya tak jauh beda. Semua pergerakan dicurigai dan diintimidasi.
Rupa-rupanya kami harus mencari teman untuk bertahan. Kami tidak akan bisa bertahan jika sendirian.
Dalam situasi sangat menegangkan saat itu, kami saling siul satu sama lain. Alhamdulillah bersambut. Sepakat, kami harus membina diri. Menempa kebaikan diri. Maka kami rutin bertemu untuk konsolidasi.
Tak ada nama, tak ada bendera. Kami hanya satu nasib. Bahwa kami anak asli negeri ini, namun diintimidasi. Kami penduduk asli bangsa ini, namun selalu dicurigai. Maka kami memilih ‘bersembunyi’ sambil menempa diri.
Di dalam ‘goa’ tempat sembunyi, kami selalu menjalin kebersamaan. Kami berteman, kami saling membantu, saling mengerti keadaan satu sama lain. Bahkan kami menikah –sesama penghuni goa itu, dan beranak pinak. Sekarang sudah bercucu. Sebagian dari kami sudah bercicit.

Hingga tiba masa reformasi. Kami ikut terlibat dalam gerakan perlawanan rakyat. Menurunkan rezim Orde Baru. Bersama seluruh lapisan masyarakat, bergerak menyerukan perubahan.
Tahun 1998 reformasi terjadi. Maka muncullah peluang kebebasan. Semua elemen yang bersembunyi, akhirnya muncul menunjukkan eksistensi. Dari yang paling kanan sampai yang paling kiri. Semua keluar dari persembunyian. Mewujudkan diri menjadi berbagai macam organisasi.
Kami terus berkonsolidasi. Ideologi dakwah telah menjadi pilihan kami. Kecintaan kami kepada NKRI kami wujudkan dalam bentuk kontribusi.
Berbagai wujud kontribusi harus kami jalani. Karena kami sangat ingin memberikan yang terbaik bagi NKRI, tanah air yang diperjuangkan dengan darah dan airmata para ulama dan santri. Kini kita semua wajib mensyukuri nikmat kemerdekaan yang Allah berikan ini.
Dari perjalanan panjang pertemanan kami, akhirnya kami menemukan bahwa kehormatan dan kemuliaan terwujud karena pembinaan diri. Tanpa kegiatan pembinaan, kami akan menjadi manusia tak berarti. Kami hanya akan menjadi buih yang tak dimengerti. Bahkan menjadi sampah yang mengotori negeri.
Usia bukan alasan bagi kami untuk terus memperbaiki diri. Itulah sebabnya, meski sekarang sudah tua, kami tetap rutin berkumpul untuk membina diri. Membangun karakter manusia bertakwa. Membina terwujudnya keluarga harmonis dan bahagia. Membangun masyarakat yang berperadaban mulia.
Bersyukur, manusia seperti kami banyak jumlahnya. Maka, kalian –para keponakan, bisa menemukan kami ada di mana-mana. Kalian menjadi memiliki banyak saudara.
Itulah sekelumit kisah, bagaimana kami bertemu dan berteman. Semoga kalian mengerti dan menjadi semakin paham. Bahwa peran yang dilakukan ayah ibu kalian, adalah pilihan sejarah yang sudah kami niatkan.
Bahwa kami harus menjadi anak bangsa yang terus berbuat untuk kemuliaan Indonesia. Agar negeri ini menjadi baldatun thayibatun wa Rabbun ghafur.
Itu sebabnya kami tetap bertemu dan berteman. Semoga pertemuan dan pertemanan kami abadi hingga di surga Allah nanti. Aamiin.
