Makan, Untuk Apakah?
.
Oleh: Cahyadi Takariawan
Ada banyak peristiwa makan. Di antaranya adalah makan untuk nutrisi, untuk kebutuhan energi. Ada pula makan untuk pertemanan, persahabatan dan persaudaraan. Ada makan untuk estetika dan citra diri. Ada makan untuk tujuan politik dan bisnis. Ada makan untuk konten media sosial. Dan berbagai jenis peristiwa makan lainnya.
Ketika makan dilakukan dalam konteks untuk nutrisi tubuh, peristiwanya menjadi sangat sederhana. Tidak memerlukan prosesi atau ritual yang rumit. Tidak perlu difoto dan di-upload. Tidak perlu menunggu komentar netizan. Dimulai dengan berdoa, lalu langsung dimakan. Selesai.
Makan menjadi tidak sederhana ketika memiliki dimensi-dimensi lain –selain untuk nutrisi. Misalnya, jamuan makan yang dirancang untuk pertemanan, persahabatan dan persaudaraan, harus menghadirkan suasana yang mendukung. Ini bukan sekedar peristiwa makan agar kenyang. Namun makan bersama agar menghadirkan pertemanan, persahabatan dan persaudaraan yang semakin kuat.
Demikian pula ketika makan untuk keperluan estetika dan citra diri. Dirancang dengan cermat dan teliti, semua renik dihadirkan dengan sangat detail. Bukan sekedar sajian aneka makanan, namun hiasan dan asesoris yang mendukung citra dan estetika. Ada bunga, ada lampu, ada live musik, dan perlengkapan lainnya.
Makan untuk tujuan politik dan bisnis berbeda lagi. Tergantung levelnya. Ada yang super mewah, karena lobi politik dan lobi bisnis tingkat tinggi. Makan malam di kapal pesiar mewah. Disambung dengan menginap di hotel atau resort nan eksotis.
Namun ada pula yang sederhana, karena lobi politik tingkat RT atau RW. Hanya butuh snack dan air mineral, seperti untuk sosialisasi caleg di perumahan warga. Murah meriah.
Kalau makan untuk kepentingan konten media sosial, menjadi peristiwa yang tak selalu seindah postingan videonya. Betapa sering kita kecewa gara-gara tertipu oleh video makanan yang diviralkan oleh kekuatan iklan. Tampak menarik, tampak enak, jauh-jauh didatangi, ternyata mengecewakan. Ini benar-benar membuat menyesal, karena sangat jauh dari ekspektasi.
Ternyata makan bukanlah peristiwa tunggal. Makan telah menjadi peristiwa budaya, politik, bisnis, ekonomi, citra diri, dan eksistensi.
****
Tulisan di atas saya buat sambil menunggu pesanan makanan lewat aplikasi online. Jika makan hanya ekspresi dari kebutuhan nutrisi, amat sangat sederhana. Tinggal pesan, dibayar, dimakan. Sambil menunggu, bisa melakukan aktivitas lain yang bermanfaat. Seperti menulis.
