Apa Sajalah

Kisah Kader yang “Terjolimi”

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Kami duduk melingkar, dan mengobrol tentang fenomena “terjolimi”. Banyak kader merasa “terjolimi”. Setelah ditelusur, ternyata definisi “terjolimi” itu adalah ketika keinginannya atau harapannya tidak dipenuhi.

Usai duduk melingkar dalam forum pembinaan, kami bertujuh menuju Bakmi Kadin di daerah Bintaran Yogyakarta. Segera mencari tempat duduk yang nyaman untuk mengobrol. Alhamdulillah dapat. Masing-masing kami mulai memesan menu kepada petugas —seorang ibu tua.

Saya memesan bakmi godog plus brutu, pak Fairuz bakmi godog plus sayap, pak Boedi bihun goreng, pak Kirno bakmi godog, pak Habib bakmi goreng, pak Zaini bakmi goreng plus kepala, pak Agus bakmi goreng plus brutu. Minumnya sebagian besar wedang bajigur, sisanya wedang tape.

Warung Bakmi Kadin ini selalu ramai pengunjung di jam makan malam. Maka harus sabar menunggu.

Tak berapa lama minuman datang. Kami mulai minum sambil mengobrol santai, tak terasa semua minuman sudah habis.

Satu jam kami mengobrol, barulah pesanan bakmi datang per dua porsi. Saya dan pak Kirno mendapat giliran pertama. Tengah menikmati bakmi godog, datang dua piring berikutnya. Saya dan pak Kirno sudah habis menyantap bakmi godog, datang dua piring bakmi goreng lagi. Sampai semua selesai makan, namun pesanan pak Habib belum juga datang.

Saat ditanyakan kepada petugas, dikatakan “yang kami catat pesanan anda hanya enam porsi”. Padahal kami bertujuh, dan masing-masing sudah memesan. Kami juga menyaksikan semua pesanan sudah dicatat oleh petugas. Ternyata ada yang tidak tercatat.

Tentu kami semua kaget dan kecewa, karena jadinya pak Habib tidak mendapatkan pesanannya. Kami tawarkan kepada Pak Habib untuk memesan bakmi lagi, dan kami siap menunggu. Namun Pak Habib menolak, karena khawatir harus menunggu satu jam lagi.

Saya kembali membujuk agar pak Habib bersedia memesan bakmi, demi kekompakan, karena semua sudah menikmati bakmi kecuali dirinya. Namun pak Habib tetap menolak.

Akhirnya kami semua pulang dalam suasana perasaan tidak enak kepada Pak Habib. Karena di depan beliau, kami berenam makan enak dan lezat. Sementara beliau hanya melihat saja pemandangan orang makan bakmi.

Pak Habib mengatakan, ”Biar saya nanti memasak mie instant saja di rumah”. Kami semua merasa kasihan.

Demikianlah kisah kader yang “terjolimi” malam ini. Karena harapan makan bakmi Kadin tidak terpenuhi.

Gak penting banget sih….

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: