Apa Sajalah

Karma Suta, Danlantamal yang Rendah Hati

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Luar biasa, perjalanan saya kali ini, berbeda dari biasanya. Untuk pertama kalinya saya mengunjungi Kupang NTT, alhamdulillah, karena sudah sangat lama ingin datang ke NTT namun baru kali ini bisa merealisasikannya. Rasa bahagia demikian kuat, selain karena akhirnya bisa berkunjung ke NTT, lebih khusus lagi karena disambut oleh Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) VII Kupang, Laksamana Pertama (Laksma) TNI Karma Suta, SE beserta isteri.

Terus terang saya tidak menyangka mendapat sambutan seistimewa itu. Danlantamal menyambut saya dan isteri sampai ke dekat tangga pesawat. Kami segera berpelukan setelah turun dari pesawat. Lama tidak berjumpa, dan memang sudah sangat ingin bertemu, sekedar reuni melepas rindu. Namun benar-benar saya tidak menyangka Danlantamal akan datang ke bandara beserta isteri, dan menyambut kami sejak turun dari pesawat.

Saya sangat terharu dan merasa tersanjung. Seorang “pengamen jalanan” seperti saya, tidak memiliki jabatan dan pangkat apapun, namun disambut di bandara oleh Danlantamal. Mungkin para staf TNI AL yang mendampingi demikian heran, siapa tamu yang sedang disambut komandan ini ?

Kami transit di ruang VIP bandara Eltari, Kupang. Di ruang ini telah menunggu isteri komandan, Ny Ratnawati Karma Suta. Segera isteri saya berpelukan dengan ibu Ratnawati. Sejenak kami berbincang melepas kerinduan, setelah hampir dua tahun tidak bertemu.

Bro Karma, demikian kami biasa menyapa sang komandan, adalah sahabat saat mengikuti Program Pendidikan Reguler Angkatan XLV (PPRA) di Lemhannas RI tahun 2010. Saya adalah sedikit dari warga sipil yang berkesempatan mengikuti pendidikan para calon jenderal tersebut. Pendidikan yang berlangsung sembilan setengah bulan di kampus Lemhannas itu, membuat kami sangat akrab satu dengan yang lain.

Sejak awal saya mengenal bro Karma di Lemhannas, saya sudah bisa melihat bahwa beliau adalah seorang pemimpin yang rendah hati. Tidak sombong, tidak arogan, dan sangat bersahabat. Wajahnya yang kalem dan tampan, ditambah senyum yang selalu menghias wajahnya, membuat semua peserta PPRA XLV merasa dekat dan nyaman dengan beliau.

Sedangkan isteri beliau, ibu Ratnawati berteman dengan isteri saya juga saat kami menempuh pendidikan di Lemhannas tersebut. Sesuai tradisi di Lemhannas, menjelang berakhirnya kegiatan PPRA, maka para isteri (atau para  suami) dari peserta program, mendapatkan pembekalan khusus oleh Lemhannas. Program bagi para isteri ini berlangsung sepekan, hingga saat penutupan kegiatan pendidikan PPRA.

Usai mengikuti pendidikan Lemhannas, kami masih saling berkomunikasi melalui milis PPRA-XLV group, dan kadang melalui SMS, facebook, bahkan blog. Untuk saat ini, melalui grup whatsApp. Dengan seabreg kesibukan beliau sebagai komandan, masih menyempatkan diri mengikuti dinamika milis. Para alumnus PPRA-XLV ini memiliki sebutan khas, yaitu Kalpatma, singkatan dari IKAL-45. IKAL adalah Ikatan Alumni Lemhannas.

Usai mengobrol sejenak di ruang VIP bandara, kami segera berpisah. Saya dijemput oleh teman-teman panitia acara, dan bro Karma kembali ke tempat tugas beserta isteri dan para staf.

Benar-benar surprise. Sambutan yang penuh kejutan, dan tidak terbayangkan sebelumnya oleh saya. Seorang komandan yang rendah hati.

Terimakasih Komandan. Semoga sukses menjaga NKRI, dan karier selalu meningkat. Semoga berkah melimpah dalam kehidupanmu. Amin.

Tinggalkan Balasan