Kaderisasi : Memilih Benih Hingga Memetik Buah
.
Oleh : Cahyadi Takariawan
Kehilangan sosok ‘founding father’ sekaligus ‘good father’, bukanlah peristiwa mudah. Terlalu banyak kesedihan akibat kehilangan seorang panutan. Salah seorang peletak dasar dakwah yang sangat kharismatik, dan menempati relung terdalam dari setiap kader.
KH. Hilmi Aminuddin adalah fenomena yang tiada habis untuk diambil pelajaran dan keteladanannya. Dalam sisi kaderisasi, beliau menempati posisi yang amat sangat sentral. Nafas beliau dalam dakwah, adalah nafas kaderisasi.
Aktivitas dakwah yang beliau lakukan di masa awal, bertitik tekan kepada kaderisasi. Intinya, bagaimana menghasilkan kader berkualitas. Tidak berorientasi kepada banyaknya jumlah, namun kepada kualitas. Mereka dicetak untuk menjadi pemikul amanah dakwah.
Memilih Benih
Ibarat menanam pohon, beliau memilih benih yang unggul. Dengan bashirah —-ketajaman mata batin— yang jernih, beliau mampu melihat siapa dan dimana benih unggul itu.
Beliau mendatangi dan mengambil benih unggul dari tengah masyarakat. Sosok-sosok tulus ikhlas, telah beliau himpun, untuk ditumbuhkan potensinya menjadi kader dan aktivis dakwah.
Terbukti, generasi awal dakwah yang beliau pilih, menjadi generasi yang hebat dan tangguh. Membuat dakwah berkembang dan mengakar kokoh.
Menanam dan Merawat Benih
Benih unggul yang sudah terpilih, segera beliau tanam dan beliau semai dengan sepenuh cinta kasih. Saya menjadi teringat adegan inti di film Filosofi Kopi. Saat Pak Seno (Slamet Rahardjo) mengajak Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto) ke kebun kopi.
Pak Seno menjelaskan rahasia mengapa kopi yang disajikannya enak. Ben dan Jody sangat ingin mengetahui rahasia kopi yang enak. Pak Seno menceritakan bagaimana ia menanam benih kopi, kemudian menyemai dan merawat tanaman kopi dengan sepenuh jiwa.
Pak Seno memperlakukan pohon kopi, seperti memperlakukan manusia. Benar-benar dengan sentuhan cinta. Itu yang membuat kopi Pak Seno menjadi kualitas tinggi dan sangat istimewa aroma serta rasanya.
Gambaran itu pula yang tepat untuk proses pembinaan yang dilakukan oleh KH. Hilmi Aminuddin. Beliau membina kader dengan sepenuh jiwa, sepenuh cinta, sepenuh doa, sepenuh pengharapan kepada Allah. Beliau rawat para kader dengan penuh ketulusan dan cinta kasih.

Mengeranjangi Buah
Karena dirawat dengan penuh ketekunan, cinta dan kasih sayang, tanaman tumbuh dengan subur dan dengan cepat menghasilkan buah. Tatkala buah sudah mulai terbentuk, segera “dikeranjangi”, agar tidak terserang hama penyakit.
Para petani Kelengkeng, terbiasa “mengeranjangi” buah yang sudah mulai tampak bergerombol, agar tidak terserang oleh kelelawar dan hama lainnya. Buah yang dikeranjangi, berarti benar-benar dalam pengawasan yang intensif, dan dijaga dengan sangat berhati-hati.
Upaya menanam dan menyemai benih yang dilakukan dengan sangat teliti, jangan sampai gagal panen karena tidak memperlakukan buah dengan baik. Buah diambil oleh kelelawar, atau terserang hama penyakit, karena kurang penjagaan.
KH. Hilmi Aminuddin menjaga dan memperlakukan kader yang sudah menampakkan loyalitas dan pengorbanan dalam dakwah, lebih cermat dibandingkan dengan SDM lainnya. Beliau bimbing secara lebih intensif, beliau berikan tugas yang lebih besar, dan disertai pengawasan yang lebih intensif.
Ini seperti filosofi ‘mengeranjangi’ buah kelengkeng. Dengan cara dikeranjangi, buah akan tumbuh optimal dan bisa dipetik pada masanya.
Kang Aus Hidayat Nur, salah seorang murid beliau, menyebut kebiasaan KH. Hilmi Aminuddin yang semakin cermat dalam membimbing kader pilihan, dengan istilah “mengeranjangi”. Maksudnya adalah menjaga, membimbing, dan mengawasi secara lebih cermat.
Menikmati Musim Panen
Ketika mulai dikeranjangi, buah akan tumbuh optimal. Pada saatnya, buah bisa dipanen dan dinikmati hasilnya. Bisa didistribusikan, dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat luas. Buah yang menyehatkan, karena berkualitas bagus.
Realitas dalam kaderisasi, selalu ada kader yang runtuh sebelum bisa dipanen. Ada kader yang rontok saat mulai proses pengeranjangan. Maka, pemilihan yang cermat untuk proses pengeranjangan, membuat hasil panen bisa lebih optimal.
Dengan seluruh perlakuan yang sepenuh cinta dan kasih sayang, tanaman bisa menghasilkan banyak buah dan akhirnya bisa dipanen dengan sukses. Inilah musim panen yang sangat membahagiakan penanamnya.
KH. Hilmi Aminuddin memiliki kebahagiaan tersendiri ketika tiba musim panen. Kader yang telah terpilih dan ‘dikeranjangi’, akhirnya tumbuh menjadi kader yang militan dalam dakwah. Rela mengemban amanah dakwah tanpa bekal material yang memadai.
Mereka berbekal spiritual, berbekal ilmu, berbekal manhaj dakwah, berbekal kecintaan terhadap jalan Allah. Mereka bertebaran di berbagai pelosok, dan melakukan proses yang sama dengan gurunya. Maka lahirlah banyak kader dakwah, yang pada saatnya ‘dipanen’ untuk melakukan proyek-proyek dakwah yang lebih besar —di berbagai bidang kehidupan.
Kini Sejarah Kita, Para Penerus
Sepeninggal beliau, kini estafeta dakwah ada di tangan kita, para penerus. Hari ini dan hari esok adalah sejarah kita, dan sejarah para kader generasi muda dakwah. Apa yang telah beliau contohkan, berupa kebaikan, semestinya kita lanjutkan.
Kita belajar, bagaimana beliau tekun dalam memilih bibit unggul, menanam, menyemai, merawat, hingga tumbuh bersemi. Saat tanaman mulai berbuah, segera diteruskan dengan proses mengeranjangi buah agar tidak terserang binatang, hama dan penyakit. Hingga akhirnya bisa panen, dan mendistribusikan hasil panen untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa dan negara.
Terimakasih, KH. Hilmi Aminuddin. Kami akan lanjutkan apa yang telah engkau mulai.

2 Komentar
Maya
Jazakumullah khayr tadzkiroh nya ust Cah …
Cahyadi Takariawan
barakallahu fikum…