Caption Hikmah

Jangan Habiskan Waktumu untuk Minta Diperhatikan

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Nasehat Cak Nun dalam cuplikan video yang banyak beredar di media sosial beberapa waktu belakangan ini, sungguh menggugah hati. Salah satu poin penting yang bisa kita dalami adalah nasehat bijak, “Jangan habiskan waktumu untuk meminta perhatian, habiskan saja waktumu untuk memberi perhatian”. Nasehat ini bisa berlaku untuk berbagai konteks yang luas.

Menyimak video nasehat Cak Nun tersebut, tiba-tiba saya menemukan titik-titik terang hubungan antara tokoh-tokoh yang mungkin tidak saling berhubungan. Saya segera ingat KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasan Al-Banna, dan Erich Fromm. Ternyata ada titik temu dari empat tokoh ini.

Cak Nun menyampaikan pesan mendalam, “Jangan habiskan waktumu untuk meminta perhatian, habiskan saja waktumu untuk memberi perhatian”. Cak Nun mengajak kita semua tidak memiliki mental meminta —termasuk meminta dihormati karena sedang berpuasa.

Dalam kehidupan perserikatan, KH. Ahmad Dahlan telah memberikan wasiat yang sangat dikenang hingga sekarang. “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Sebuah pesan teramat sangat mendalam. Motivasi yang sangat tinggi untuk mencintai organisasi dengan jalan memberi.

Dalam kehidupan berharakah, KH. Hasan Al-Banna terkenal dengan slogan yang dikembangkan untuk para aktivis pergerakan, “Sunduquna juyubuna. Kas pergerakan kita dari kantong kita sendiri”. Semangat yang dibangun adalah memberi kontribusi kepada jalan perjuangan, bukan mendapat keuntungan dari organisasi.

Dalam dunia percintaan, Erich Fromm dalam The Art of Loving menyatakan, seni tertinggi dari mencintai adalah hasrat yang aktif untuk terus memberi —bukan menerima. Umur manusia sangat pendek —kata Fromm— jika habis untuk membangun harapan menerima, bisa jadi hal itu tidak didapatkan di sepanjang kehidupan. Memberi, adalah pilihan rasional yang membuat seseorang selalu mendapatkan energi.

Ini semua jelas memiliki semangat yang sama. Pesan monumental KH. Ahmad Dahlan, prinsip KH. Hasan Al-Banna, nasehat Cak Nun, serta teori Erich Fromm —mengajak kita berorientasi kepada memberi. Bukan menerima. Jika semangat kita adalah memberi, hidup kita akan bahagia. Jika semangat kita adalah meminta dan menerima, hidup kita akan sengsara.

Sering kali kita merasa penting, sehingga minta perhatian lebih. Saat perhatian itu tidak kita dapatkan, maka kita dibuat kecewa. “Potensi saya disia-siakan di lembaga ini. Saya dibuang, tidak dipakai lagi. Mereka menyingkirkan saya”. Maka sebagian orang menjadi kecewa, karena merasa tidak mendapat perhatian utama dari organisasi lama.

Sikap seperti itu muncul, salah satunya, karena semangat yang dibangun justru berkebalikan dengan pesan-pesan motivatif tokoh-tokoh di atas. Ketika semangat yang dibangun adalah “mencari hidup di organisasi” —versi KH. Ahmad Dahlan; atau “menghendaki kas pergerakan” –versi KH. Hasan Al-Banna; atau “menghendaki perhatian dari organisasi” —versi Cak Nun, maka kekecewaan sangat mudah didapatkan.

“Apa yang bisa aku berikan untuk organisasi?” Adalah pertanyaan penting yang menjadi pesan empat tokoh tersebut. Jika pertanyaan kita adalah “Apa yang bisa diberikan organisasi kepadaku?” maka bersiaplah untuk selalu kecewa, kecewa dan kecewa.

“Tagih dirimu sendiri, jangan menagih dari orang lain”, ujar Cak Nun dalam cuplikan video itu. Jika kita bawa dalam dakwah, “Tagih dirimu sendiri, jangan menagih dari jama’ah”.

Jika dalam dakwah kita berorientasi kepada memberikan kontribusi, menghidupi organisasi, mengeluarkan dana untuk perjuangan, dan hasrat aktif untuk senantiasa memberi, maka kita tidak akan mudah kecewa. Waktu, tenaga, pikiran, harapan —semua terkonsolidasi untuk memberikan yang terbaik bagi kepentingan dakwah.

Betapa indah.

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: