Hikmah di Balik Setiap Musibah
Oleh : Cahyadi Takariawan
Musibah datang silih berganti. Ada yang berskala lokal, ada yang berskala nasional, bahkan di tahun 2020 kita dihadapkan musibah berskala dunia, dengan hadirnya virus corona. Apapun musibah yang menimpa manusia, selalu terkandung makna. Tidak ada satupun kejadian di alam semesta ini yang terjadi dengan sia-sia, semua pasti ada hikmahnya. Salah satu kewajiban manusia adalah mengambil hikmah terbaik, makna terbaik, dari setiap peristiwa,
Mari saya mengajak anda untuk mengambil hikmah terbaik dari musibah mewabahnya virus corona.
Pelajaran 1: Tentang Kekuatan dan Kelemahan
“Sekuat apapun manusia dan semua yang dibangunnya, adalah lemah di sisi Allah”.
Bangunan yang kokoh berdiri, dengan konstruksi yang telah diuji materi, memenuhi standar kualifikasi, menjadi tidak berarti di hadapan kekuatan Ilahi. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat canggih, sistem yang sangat valid, kekayaan yang berlimpah, semua tak bermakna di hadapan Allah yang Mahakuasa.
Hanya Allah yang Mahakuat, semua manusia adalah lemah tak berdaya. Hanya dengan virus corona, manusia semakin tampak kelemahannya. Virus corona adalah satu dari sekian banyak makhluk ciptaan Allah, tentara Allah, tanda-tanda kekuasaan Allah. Cukup untuk membunuh banyak manusia. Cukup untuk melumpuhkan banyak negara adidaya.
Oleh karena kita lemah, maka harus berlindung kepada Dzat Yang Mahakuat. Jangan berlindung kepada manusia. Jangan berlindung kepada teknologi. Tak ada manusia yang sanggup melindungi. Tak ada teknologi yang sanggup menjamin kehidupan. Hanya Allah, Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
كَتَبَ ٱللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا۠ وَرُسُلِىٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ قَوِىٌّ عَزِيزٌ
“Allah telah menetapkan: Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Mujadilah: 21)
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْعَزِيزُ
“Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Hud: 66)
وَهُوَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْعَزِيزُ
“Dan Dialah yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Asy Syura’: 19)
Pelajaran 2 : Tentang Keabadian dan Kehancuran
“Seluruh makhluk akan binasa dengan cara dan bentuknya masing-masing. Hanya Allah yang Kekal Abadi”.
Sehebat apapun, sekuat apapun, sekokoh apapun, segarang apapun, makhluk akan hancur binasa. Semua makhluk adalah fana dan akan binasa. Apapun ciptaan manusia, akan hilang dan lenyap, dengan cara dan bentuk masing-masing. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semua akan hancur, semua akan musnah. Hanya Allah yang Kekal Abadi.
Karena kita lemah dan tak berdaya, maka mari berlindung kepada Dzat yang Abadi, jangan berlindung kepada makhluk yang akan hancur. Makhluk fana, yang kekuatannya hanya sementara. Kehebatannya ada batasnya. Tak akan mampu melindungi, tak akan mampu menjaga.
مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An Nahl: 96).
Pelajaran 3 : Tentang Kehidupan dan Kematian
“Setiap musibah mengabarkan kepada kita, yang mati tidak selalu orang-orang lemah”.
Lihatlah kejadian musibah di berbagai negara. Kadang dijumpai banyak orang dewasa yang bertubuh kuat, mati terkena musibah. Sementara bayi justru ditemukan dalam kondisi hidup. Inilah pelajaran penting itu, bahwa mati bukan karena lemah, dan bertahan hidup bukan karena kuat. Manusia mati karena sudah tiba waktunya untuk menghadap Ilahi, sekuat apapun, sehebat apapun, sekaya apapun, sekebal apapun daya imunitas tubuhnya.
Di tengah mewabahnya virus corona, manusia tak selalu mati karena terinfeksi olehnya. Di tengah perang yang berkecamuk, manusia tak selalu mati karena tertembus oleh peluru. Di tengah gempa, tsunam dan liquifaksi, manusia tak selalu mati karena tertimpa bencana ini. Sangat banyak ‘sebab’ yang menghantarkan kepada kematian.
Manusia tidak memiliki kendali atas hidup dan matinya sendiri. Allah yang telah menetapkan batas-batasnya. Kapan kita harus hidup dan kapan harus mati.
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُوْنَ
“Setiap umat mempunyai ajal. Ketika tiba ajal mereka, maka mereka tidak bisa meminta ditangguhkan meski hanya sesaat. Juga tidak bisa minta diajukan.” (QS. Al A’raf : 34)
أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِيْ بُرُوْجٍ مُشَيَّدَةٍ
“Dimana pun kamu berada, kematian pasti akan menemukan kamu, sekalipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An Nisa’: 78)
Pelajaran 4 : Tentang Kesungguhan Usaha dan Kepasrahan
“Kewajiban manusia hanyalah berusaha dengan segenap kesungguhan, namun Allah yang menentukan hasilnya”.
Manusia wajib berusaha mencegah terjadinya bencana dan menyelamatkan diri dari bencana. Segala daya upaya wajib dikerahkan untuk menghindarkan diri dari musibah, termasuk wabah corona yang saat ini tengah melanda. Protokol kesehatan bisa diberlakukan oleh pemerintah, dalam rangka menghadapi musibah. Namun hasilnya kita pasrahkan dengan tulus kepada ketentuan Allah.
Manusia tidak boleh hanya bersikap pasrah tanpa usaha menghindari dan mencegah bencana. Ketiadaan usaha akan membuat kita menyesal, sedangkan ketiadaan sikap pasrah akan membuat kita ingkar padaNya.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. At Taubah : 105)
Pelajaran 5 : Tentang Harapan dan Kekhawatiran
“Manusia berharap akan mendapatkan kehidupan yang tenang, damai, dan membahagiakan, namun harapan belum tentu terwujudkan”.
Manusia selalu menghendaki kehidupan yang damai, sejahtera dan membahagiakan. Misalnya, rumah yang kokoh kuat antigempa, bisnis yang stabil, kondisi ekonomi yang terus membaik, posisi yang terus meningkat, dan lain sebagainya. Namun setinggi apapun harapan yang dibangun manusia, harus disertai pula dengan kekhawatiran —-bahwa kondisi yang dihadapi tidaklah selalu sesuai harapan.
Terlalu besar harapan akan membuat mudah kecewa. Terlalu besar kekhawatiran membuat mudah gelisah. Keseimbangan antara harapan dan kekhawatiran akan membuat hidup kita selalu waspada.
إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami.” (QS. Al Anbiya’: 90)
Pelajaran 7 : Tentang Desain Allah dan Desain Manusia
“Manusia wajib merencanakan berbagai hal untuk kebaikan kehidupannya, namun desain Allah yang pasti akan terlaksana”.
Merencanakan adalah kewajiban manusia. Kita mendesai kehidupan, mendesain pemerintahan, mendesain kenegaraan, mendesain kemakmuran, mendesain kesejahteraan, mendesain kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan. Sehebat apapun. Secanggih apapun, seteliti apapun desain manusia, yang akan terlaksana adalah desain dari Allah Ta’ala.
Manusia membuat bangunan tahan gempa, tahan tsunami, tahan badai. Mendesain dan melatih masyarakat agar sadar bencana. Mendesain jalur evakuasi dan peralatan penyelamatan. Mendesain imunitas manusia, mendesain sistem kekebalan tubuh, dan lain sebagainya. Namun “desain” Allah pasti akan berlaku untuk makhlukNya.
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).
Pelajaran 8 : Tentang Kesiagaan dan Kelalaian
“Manusia mudah lengah dan lalai, maka harus selalu siaga”.
Manusia adalah makhluk yang mudah lengah dan lalai. Lalai bahwa hidup di dunia ini sebentar saja. Lalai bahwa kematian mengintai dimana-mana. Lalai amal ibadahnya belum seberapa. Lalai belum sempat menyatakan taubat. Lalai masih terlalu banyak maksiat. Lalai belum menjadi hamba yang taat.
Setiap musibah selalu mengingatkan manusia, tentang kelalaian, dan mengajak manusia agar selalu siaga dan waspada. Namun, mengapa harus menunggu diingatkan oleh bencana? Ambil segera kesiagaan kita.
أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتاً وَهُمْ نَآئِمُونَ
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (QS. Al A’raf: 97)
أَوَ أَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَن يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ
“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?” (QS. Al A’raf: 98)
أَفَأَمِنُواْ مَكْرَ اللّهِ فَلاَ يَأْمَنُ مَكْرَ اللّهِ إِلاَّ الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)
Yogyakarta, 18 Maret 2020
