Hidup Itu Seperti Grup Whatsapp
Oleh : Cahyadi Takariawan
Berapa grup Whatsapp yang Anda berada di dalamnya? Duapuluh grup? Limapuluh grup? Seratus, atau duaratus grup? Tentu berbeda-beda jumlahnya.
Setiap kita memiliki alasan, mengapa berada dalam sebuah grup. Sebagaimana setiap kita memiliki alasan mengapa meninggalkan sebuah grup. Bersyukur belum ada UU yang melarang seseorang keluar dari grup Whatsapp.
Sebagian grup tampak sedemikian aktif, terdengar dari notifikasi pesan masuk yang sahut menyahut sepanjang waktu. Seakan tidak ada matinya. Namun, sesungguhnya hanya ada sebagian kecil anggota saja yang aktif, namun sangat mendominasi.
Jika kita gunakan prinsip Pareto, atau hukum 80 / 20, maka pada setiap grup Whatsapp hanya ada 20 % anggota yang aktif, namun sudah bisa memberikan impact atau benefit 80 % dari keberadaan grup tersebut. Jika Anda berada dalam banyak grup, maka rata-rata hanya 20 % saja dari seluruh grup yang Anda aktif terlibat dalam pembicaraan, namun itu sudah menyumbang 80 % kemanfaatan keberadaan Anda dalam berbagai grup.
Kehidupan Kita, Persis Seperti Suasana Grup Whatsapp
Dalam setiap grup Whatsapp, ada orang-orang yang berusaha taat aturan, dan ada pula orang yang tidak peduli aturan. Misalnya, ada aturan di grup hanya boleh iklan di hari Minggu. Nyatanya banyak orang posting iklan setiap waktu.
Dalam menyikapi pelanggaran, ada anggota grup yang marah dan mengancam untuk mengeluarkan pelaku pelanggaran dari grup. Namun ada anggota yang mengatakan, fungsi grup ini untuk silaturahmi, kalau sampai mengeluarkan anggota dari grup, berarti merusak tujuan yang dibuat sendiri.
Orang lucu, orang lugu, orang kaku, semua ada di dalam grup Whatsapp. Benar-benar miniatur kehidupan nyata. Dengan segala jenis perilaku, ada di dalamnya. Jahil, usil, jorok, salih, sopan, semua ada dalam grup. Akademis, analitis, kritis, puitis, sinis, sadis, bengis, romantis, melankolis, semua ada di dalam grup.
Peristiwa Silih Berganti, Ringan Saja
Perhatikan tema pembicaraan dalam sebuah grup Whatsapp. Silih berganti. Timpuk menimpuk. Tak ada agenda. Bebas saja. “Group chat is like being in an all-day meeting, with random participants, and no agenda” (Jason Fried, 2016).
Satu orang posting cerita canda, yang lain komen dengan ketawa. Menimpuk dengan cerita canda lainnya, makin heboh grupnya dengan emoticon ketawa. Mendadak sunyi. Ada berita kematian diposting seorang anggota yang kehilangan orangtuanya.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, ayah saya…..”
Semua mengucapkan bela sungkawa. Satu orang menulis doa bela sungkawa, yang lain copy paste di bawahnya, sama persis. Sebagian hanya mengaminkan. Sampai beberapa menit kemudian, semua masih tentang duka cita.
Tak lama kemudian, seorang anggota yang bangun kesiangan memposting promosi jualan. “Dijual murah meriah. BU. Mobil Mazda tahun 1995, body kaleng, pajak baru, AC, power steering”.
Beberapa anggota langsung menawar harga. Yang lain memberikan komentar dengan doa, “Semoga cepat laku”. Yang lain komentar dengan canda, “Gratis juga gue ga mau, barang tua…”
Begitulah peristiwa silih berganti di grup Whatsapp. Sekali waktu tertawa, sekali waktu tegang karena beda pilihan Calon Presiden, sekali waktu bela sungkawa, sekali waktu jualan berbagai komoditi yang mereka punya.
“But people who have Whatsapp groups with work colleagues who they literally see and talk to all day? How do you have so much chat stored up after nine hours together?” (Miranda Larbi, 2017).
Ada sangat banyak hal dibicarakan. Tak beraturan. Begitulah pula realitas dalam kehidupan sehari-hari. Peristiwa datang dan pergi silih berganti. Sebagian kita rencanakan, yang lainnya adalah sebuah kemestian untuk kita hadapi. Ringan saja menghadapi, jangan sampai menjadi beban berat di hati.
Di grup Whatsapp, ada canda tawa, ada bela sungkawa, ada suasana gembira, ada suasana duka cita, dan sangat cepat suasana perubahannya. Di dalam grup Whatsapp tersebut, ringan saja menghadapinya, jangan berlebihan dalam kesedihan dan kegembiraan.
Ketika ada anggota grup yang meninggal dunia, dalam satu hari semua posting tentang kesedihan dan kenangan. Namun esok sudah kembali jualan dan posting aneka hal yang tak beraturan. Sudah kembali bercanda, sudah kembali ceria, sudah kembali ketawa-tawa. Seakan tak terjadi apa-apa.
Pandai-pandailah mengambil makna dari setiap peristiwa, jangan sampai menjadi beban yang memberatkan dan menyesakkan jiwa. Menghadapi pandemi corona, sikapi dengan dewasa dan bijaksana. Namun ini tidak akan selamanya. Akan ada masa berakhirnya.
Persis seperti suasana obrolan di grup Whatsapp kita.
Bahan Bacaan
Jason Fried, Is Group Chat Making You Sweat? www.medium.com, 7 Maret 2016
Miranda Larbi, The Tyranny of Whatsapp Groups and Why Some of Us Aren’t in Any? www.metro.co.uk, 3 Mei 2017

3 Komentar
Herni Rosalina
Mantap
Cahyadi Takariawan
alhamdulillah, terimakasih mbak herni…
irmayanti
sangat setuju pak cah