Kemanusiaan Dakwah

Habis Manis Sepah Dibuang

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Beberapa waktu belakangan ini, kami tengah mengumpulkan quotes dakwah dari beberapa kader dakwah. Ada yang membuat quotes sangat serius, namun ada pula yang bernada canda, seperti “Istiqamah itu berat. Yang ringan itu istirahat”. Ada lagi quotes, “Yang namanya dakwah itu pasti banyak ujian. Kalau banyak cucian, itu namanya laundry”. Dan masih banyak lagi kiriman quotes dakwah lainnya.

Seorang sahabat menulis quotes di grup whatsapp. “Dakwah itu bukan seperti tebu. Habis manis sepah dibuang”. Kendati mungkin saja ia bergurau, namun saya menangkap pesan serius di dalamnya. Saya memiliki empat catatan atas “quotes dakwah” tersebut.

  1. Apresiasi dan Respek

Semua kader dalam perjalanan dakwah ini, telah berjuang, berkorban, berkontribusi, berperan, dengan cara dan sarana yang bisa mereka lakukan, di posisi mereka masing-masing. Ada yang posisi publik, ada yang posisi kepengurusan, kepanitiaan, bahkan banyak kontribusi yang dilakukan dengan cara dan sarana yang tak diketahui oleh kader lainnya. Hendaknya kita pandai menghargai, memberi apresiasi, dan respek atas jerih payah, kesungguhan, ketulusan, pengorbanan yang sangat banyak tersebut. Dalam setiap capaian dakwah, selalu ada peran dari sangat banyak pihak. Sangat banyak, dan tak bisa disebut satu per satu.

Apresiasi tidak selalu dalam bentuk hadiah atau pemberian penghargaan tertentu, sebab teramat banyak peran yang tak bisa disebutkan bahkan tidak diketahui oleh para pimpinan. Seorang simpatisan mengajak beberapa teman anggota gank, untuk ikut acara kampanye PKS, dengan maksud menjaga agar tidak ada yang mengganggu kampanye itu. Ia tidak mendaftarkan diri sebagai panitia atau relawan, ia tidak minta ongkos pengamanan, ia tidak meminta diliput media dan disebut namanya. Sebab ia merasa hanya itu yang bisa dilakukan untuk membela PKS, partai yang dicintainya.

Apresiasi dan respek, bisa kita wujudkan dalam bentuk doa, semoga semua pihak yang terlibat dalam proyek besar dakwah, dengan berbagai cara, sarana dan bentuknya, mendapatkan balasan kebaikan berlipat dari sisi Allah, di dunia maupun di akhirat. Semoga ketulusan mereka berbuat berkah, rahmat, pahala dan ampunan Allah untuk mereka beserta eluarga mereka.

  • Kesadaran Regenerasi

Di saat yang sama, semua dari kita harus menyadari bahwa organisasi dakwah membutuhkan regenerasi. Dari waktu ke waktu, kepemimpinan dan kepengurusan akan selalu berganti, dan melakukan proses regenerasi. Maka, semua pengurus akan demisioner pada waktunya, semua pejabat publik akan berakhir masa tugasnya, semua pemimpin akan berganti pada saatnya. Kesadaran ini penting, agar kita bersedia memberikan kesempatan kepada generasi berikutnya, atau kader-kader muda, untuk menempati pos kepemimpan, kepengurusan serta jabatan publik lainnya.

  • Kesadaran Amanah

Dalam tradisi organisasi dakwah, peran kepemimpinan dan kepengurusan adalah amanah. Bukan lahan perebutan. Maka quotes “dakwah itu bukan seperti tebu, habis manis sepah dibuang” menjadi ambigu. Jika tidak lagi menjadi pemimpin organisasi dakwah itu disebut sebagai “dibuang”, maka semua orang akan dibuang pada gilirannya. Jika tidak lagi masuk kepengurusan itu disebut sebagai “dibuang”, maka semua orang akan dibuang pada saatnya. Jika tidak diusung menjadi pejabat publik itu disebut sebagai “dibuang”, maka semua orang akan dibuang pada waktunya. 

Tentu semua kader memahami, bahwa kepengurusan dan kepemimpinan itu silih berganti, sebagai sebuah amanah. Maka, tidak dipilih kembali menjadi pengurus, itu hanya soal pergantian amanah. Bukan dibuang. Apalagi ada yang menggunakan terminologi dicopot, atau dizalimi. Pergantian itu hal yang wajar saja dalam organisasi dakwah, maka tidak perlu merasa dibuang, dicopot atau dizalimi. Selama proses pergantian sudah sesuatu aturan dan mekanisme, maka itu adalah bagian dari pembagian amanah dan proses regenerasi.

  • Kesadaran Peran dan Fungsi

Selanjutnya, yang harus terus menerus dikembangkan adalah kesadaran peran dan kesadaran fungsional, bahwa dakwah tidak terbatas pada masa kepengurusan atau kepemimpinan. Dakwah adalah peran seumur hidup, dakwah adalah fungsi yang melekat pada setiap mukmin di sepanjang kehidupan. Tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi pengurus, tidak menjadi anggota legislatif, tidak menjadi kepala daerah, itu hanya soal pergantian peran. Harus ada peran yang beragam dalam dakwah, namun semua mengarah kepada tercapainya tujuan-tujuan dakwah.

Teramat sangat banyak peran dakwah yang bisa kita kembangkan di berbagai bidang kehidupan. Tak akan menganggur di jalan dakwah ini, kecuali mereka yang sengaja menepi.

Yogyakarta, 18 Maret 2020

Tinggalkan Balasan