Tarbiyah Itu Mudah

Bagaimana Saya Mengajak?

Bagikan

Tarbiyah itu Mudah

@ Khomsa Ummu Hilya (Riau)

Sebenarnya saya tidak PD dan merasa tidak mumpuni untuk membina majelis halaqah pekanan.

Namun saya sepenuhnya sadar, bahwa ibadah saya masih sangat sedikit, ilmu agama ga seberapa, dosa masih banyak. Lalu dengan modal apa saya punya cita cita ingin masuk surga?

Saya teringat sebuah pesan indah Baginda Nabi saw, yang pernah disampaikan oleh Murabbiyah saya.

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan (kepada orang lain), maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim).

Kebaikan itu Allah ciptakan untuk kita, kebaikan itu ada di sekitar kita. Tergantung kita, mau membiarkan berlalu begitu saja atau segera menyambut kebaikan dengan mempelajari dan berusaha mengamalkannya.

Kalau berharap pahala dari ibadah yang kita lakukan sendiri, kayaknya gak pernah cukup untuk berani berharap surga. Dan pesan cinta dari Baginda Nabi Muhammad saw di atas memotivasi diri saya untuk mengajak orang lain agar bersama-sama melakukan kebaikan, sekecil apapun itu.

Saya memberanikan diri untuk memulai mengajak orang lain melakukan kebaikan. Semampu saya.

Sekali, dua tiga kali, bahkan sampai berkali-kali, ada kalanya penolakan itu selalu menghampiri. Ternyata mengajak kepada kebaikan tidak mudah. Tetapi bukan berarti susah dan mustahil.

Setelah mulai mengajak, tentu saya harus berusaha menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dari waktu ke waktu. Berusaha memperbaiki diri.

Meskipun di awal terasa terpaksa, dipaksakan, dan bisa jadi ada motivasi agar dilihat orang lain bahwa “saya baik”. Ternyata lama-lama menjadi kebiasaan yang ujungnya menjadi kebutuhan.

Ya, kebaikan itu adalah kebutuhan kita. Setiap saat.

Dengan melihat usaha kita untuk menjadi baik, orang di sekitar akan lebih menyukai kita. Mereka lebih nyaman ketika berteman, dan sering minta pendapat serta masukan kita.

Saya mengawali interaksi dengan “calon binaan” –melalui persahabatan.

Saya harus betah menjadi pendengar yang baik ketika dijadikan tempat curhat dari semua masalah yang tengah dihadapi.

Saya berusaha mencari cara bagaimana bisa “mendaur ulang” cerita tentang masalah yang mereka hadapi.

Dengan usaha itu, mereka merasa nyaman. Merasa diterima dan dihargai. Sehingga mereka ingin kita selalu hadir dalam setiap masalah yang mereka rasakan.

Dengan demikian, tak perlu lagi mengajak mereka untuk mengikuti forum pembinaan rutin.

Dengan senang hati mereka bahkan menawarkan diri. “Mbak, aku mau ikut ngaji rutin yang berkelompok-kelompok itu…”

Alhamdulillah.
Alhamdulillah.
Alhamdulillah.

Mereka terhimpun dalam satu majelis. Lalu forum pembinaan rutin bisa dimulai.

Tinggalkan Balasan